WACANA penggunaan hasil ujian nasional (UN) sebagai pengganti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) sudah sejak lama didengungkan.
Biasanya wacana ini muncul setiap tahun menjelang pelaksanaan UN dan UMPTN. Namun hingga kini belum jelas kapan wacana itu bisa direalisasikan.
Dari berbagai sisi sebenarnya banyak keuntungan yang bisa diperoleh apabila hasil UN bisa dipergunakan untuk menentukan masuk PTN. Pertama, dari sisi biaya, para pelajar atau calon mahasiswa pasti diuntungkan karena tidak perlu membayar biaya pendaftaran UMPTN. Selain biaya pendaftaran, calon mahasiswa yang ikut bimbingan tes dan sejenisnya pasti harus mengeluarkan dana ekstra. Jika tidak ikut, peluang masuk PTN semakin sempit. Kedua, dari sisi waktu, jika UN digabungkan dengan UMPTN maka mereka tidak perlu repot-repot untuk belajar keras dalam waktu yang berbeda. Ibarat pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.
Meski dari berbagai sisi penggabungan UN dengan UMPTN lebih praktis dan menguntungkan, namun tidak mudah untuk merealisasikan hal ini. Pertama, tidak ada sinkroniasi antara soal-soal UN dengan UMPTN. Soal-soal UN biasanya berbeda dengan soal UMPTN karena target yang diinginkan memang berbeda. Jika UN menginginkan apa-apa yang didapat pelajar ketika bersekolah maka UMPTN menginginkan kemampuan calon mahasuswa sesuai dengan standar masing-masing PTN. Dua hal ini yang belum nyambung sehingga sulit menggabungkan UN dan UMPTN.
Hal kedua yang juga sangat krusial adalah pihak PTN tidak percaya dengan hasil UN. Ketidakpercayaan PTN bukan soal standar UN tapi berkaitan dengan penyelenggaraannya yang dianggap belum fair.
Bukan menjadi rahasia umum lagi jika penyelenggaraan UN selalu menimbulkan kontroversi. Banyak kecurangan-kecurangan yang terjadi dalam pelaksanaan UN dan ini diduga dilakukan pihak sekolah. Kelulusan seorang siswa dalam UN tidak hanya berkaitan dengan masa depannya sendiri, tapi juga tersangkut dengan kredibilitas sekolah yang bersangkutan. Bagaimana wibawa sekolah yang dianggap favorit jika banyak muridnya yang tidak lulus? Bagaimana masa depan sekolah swasta jika banyak siswanya yang tidak lulus? Pasti pada tahun ajaran baru tidak akan ada lagi murid yang mau mendaftar. Bagi sekolah, soal masuk tidaknya lulusannya ke PTN, merupakan urusan belakang. Yang penting harus lulus dahulu.Sementara UMPTN pasti menginginkan calon mahasiswa yang diterimanya sesuai dengan standar yang mereka tentukan. Dengan dua persepsi yang berbeda ini maka akan sulit ketemu.
Persoalan dunia pendidikan kita dari dahulu memang selalu berkutat di persoalan ini. Bagaimana kita bisa maju, jika negara lain sudah berbicara soal peningkatan mutu pendidikan, sementara kita masih berkutat pada sistem kelulusan dan sistem penerimaan. Jika kita masih berkutat pada kuantitas kelulusan, bukan pada kualitas, maka selamanya kita akan selalu tertinggal.
Karena itu, hal ini harus segera dibenahi jika tidak ingin Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kita terus menurun. Jika IPM pada tahun 2006-2008 masih bertahan di urutan 108 maka tahun 2009 semakin terperosok ke urutan 2009. Memang tolok ukur menentukan IPM bukan soal kualitas pendidikan semata, tapi paling tidak jika kualitas pendidikan kita turun atau katakanlah stagnan pasti akan disalip oleh negara lainnya. Maka mau tak mau, hal ini harus segera dibenahi kalau kita tidak mau semakin jauh tertinggal dibanding negara lain.